Pukul empat pagi.

Nadi dan Bintang terlihat tertidur pulas di atas kasur milik Nata. Di lantai satu, tepatnya di kamar depan, Gavi terlelap di antara Hoshea dan Aby. Sementara di sisi luar kamar, dengkuran keras Cakra memenuhi ruang keluarga—ia tertidur tanpa gangguan.

Grrkk… grrkk…

Suara itu berulang, berat dan mengganggu. Tidak jauh dari tempat Cakra tidur, dua orang masih terjaga.

“Kayak akun buzzer, Nat…”

“Ya lo tinggal ganti username-nya kampung. Dog_Nanda, bagus tuh.”

“Lo monyet. Ihh, ini kenapa nggak bisa di-scroll?”

“ Tinggal lo Relog-in…”

“Nat…”

Grrkk… grrkk…

Nanda memicingkan mata ke arah suaminya yang masih terlelap. “Gue bekep pakai bantal juga nggak lama. Dia doang yang berisik,” ucapnya kesal.

Nata terkekeh pelan. Mereka sedang membuat akun Twitter kedua untuk Nanda—tempat ia bisa berkomentar sepuasnya tanpa membawa identitas asli, yang sudah dikenal luas sebagai dokter obgyn.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Joshua muncul dengan mata merah, jelas baru terbangun. “Lah, belum tidur kalian?” tanyanya, menatap keduanya di bawah cahaya lampu redup.

“Gue udah biasa jam tidur rusak,” sahut Nanda santai.

Joshua berdecak. “Justru kalau dikasih waktu istirahat tuh tidur, bukan main hape. Kayak Bintang aja.” Ia mengomel ringan, lalu berjalan ke kamar kecil.

Dengkuran Cakra tetap menjadi latar suara yang tak henti, menambah ramai suasana rumah di pagi buta itu, di antara obrolan Nata dan Nanda.

Tak lama kemudian, pintu kamar lain ikut terbuka. Aby keluar dengan ekspresi jahil yang sudah terlalu familiar. Ia langsung mendekati mereka.

Nata otomatis waspada.

Follow tweet baru gue, By,” ujar Nanda, memperlihatkan ponselnya.