CW // TW: mental health, meds, OCD, anxiety, emotional distress, dependency, kiss, pet death

https://music.apple.com/id/album/no-one-noticed/1733730985?i=1733731157&l=id&ls


Dengan masker dan scrub yang sudah ia ganti dengan pakaian biasa, Nata tidak tampak mencolok saat menunggu gilirannya. Sistem antrean berjalan sebagaimana mestinya—pasien mengambil nomor, menunggu panggilan, lalu menjalani pemeriksaan awal sebelum konsultasi dengan dokter spesialis jiwa.

Sesekali Nata mengecek ponselnya, memastikan apakah calon suaminya sudah membalas pesan. Tak lama kemudian, nomornya dipanggil oleh perawat. Ia bangkit dan melangkah masuk ke ruang pemeriksaan awal.

“Silakan duduk, Dok,” ujar perawat dengan senyum sopan, tetap menjaga profesionalitas meski tahu pasiennya adalah sejawat.

Nata langsung menyingsingkan lengan kiri dan meletakkannya di atas meja. Pemeriksaan tanda vital dimulai dari pengukuran tekanan darah.

“Tekanan darah 118/76 mmHg, nadi 72 kali per menit, reguler,” lapor perawat.

Nata mengangguk ringan.

“Belakangan cukup stabil. Udah lama nggak ada spike,” ujarnya santai, menunjukkan pemahaman klinisnya.

Perawat tersenyum tipis sambil mencatat ke dalam rekam medis elektronik.

Tahap berikutnya adalah anamnesis singkat. Keluhan utama: kontrol rutin. Pola tidur Nata membaik, mood relatif stabil, dan kepatuhan minum obat juga baik.

“Masih rutin obat, Dok?” tanya perawat.

“Masih. Biasanya kombinasi. Tapi bulan ini saya mau evaluasi lagi… mungkin ada penyesuaian,” jawab Nata.

Ia sempat tersenyum tipis saat ditanya mengenai aktivitas harian.

“Sekarang lebih… manageable. Ada pasangan hehe… dan di rumah juga pelihara marmut. Lumayan buat distraksi positif,” tambahnya.

Perawat mencatatnya sebagai bagian dari status psikososial. Setelah pemeriksaan awal selesai, Nata kembali ke ruang tunggu, menanti panggilan dari dokter spesialis jiwa—dr. Satria Mandala, Sp.KJ.

Sejak kepindahannya sebagai dokter spesialis radiologi tetap di RS Universitas Tujuh Belas, Nata memang rutin kontrol setiap bulan sejak Februari lalu untuk evaluasi dan pengambilan obat. Ia secara khusus memilih Manda—atas rekomendasi langsung dari Nanda, sahabatnya.

“Nomor antrean tujuh belas, atas nama Nathael Sadrach.”

Nata berdiri, menarik napas singkat, lalu melangkah menuju ruang praktik Manda.