CW/TW: parental death, grief/mourning, medical burnout, hospital/workplace pressure, COVID-19 pandemic themes, strong language, mild violent remarks, and emotional longing/unrequited love.


10 Juni 2010

Hasil pengumuman seleksi PPDS gelombang pertama terpampang di majalah dimding Rumah Sakit Universitas Tujuh Belas.

Thank God,” gumam Mika dengan wajah sumringah. “Cak, gue lulus!”

Ucapan itu langsung disambut pelukan singkat dari Cakra. Sahabatnya itu sudah lebih dulu melihat hasil pengumuman pagi tadi. Sama seperti Mika, ia juga berhasil lolos di departemen yang sejak awal diincarnya.

“Tai, gue mau nangis,” ucap Cakra sambil tertawa kecil. “Nanda harus tahu. Gue mau sms dia dulu kalau kita berdua lulus bareng.”

Mika tersenyum lalu mengangguk pelan.

Hanya satu nama yang langsung muncul di kepalanya. Nata.

Sore nanti, Mika ingin memberi tahu laki-laki itu bahwa dirinya resmi diterima sebagai mahasiswa PPDS Ortopedi setelah lolos tahap wawancara.

“Mik.”

Mika menoleh saat seseorang memanggilnya.

Jacob Saputra Pratama—teman semasa kuliah S1 yang memilih berkarier sebagai dokter umum.

“Gue diterima, Jac. Diterima,” ucap Mika dengan mata berbinar.

Jacob langsung menjabat tangan Mika erat. “Selamat ketemu Dokter Aribka, ya. Semoga lo nggak kena bornya,” canda Jacob.

Mika tertawa pelan sambil membalas jabat tangan itu.

“Wawancaranya out of topic nggak? Atau aman aja?” tanya Jacob.

“Aman, sih. Paling pertanyaan dasar, kayak alasan gue milih ortopedi,” jelas Mika.