Panas di luar rumah tak mampu mengeringkan derasnya air mata Nata yang terus jatuh tanpa jeda.
Sesering apa pun ia mengusap mata dan wajahnya, air itu tetap mengalir begitu saja.
Bukan hanya karena hamster peliharaannya mati mendadak, rasa pedih itu semakin merambat saat ia membereskan beberapa pakaian Gabriel untuk dipakai di Bali nanti. Semua pakaian berukuran besar yang biasanya pas di tubuh Gabriel kini tampak longgar, seolah berubah menjadi pakaian oversize saat dikenakan Papinya itu.
Siapa, sih, yang tidak merasa kehilangan? Sejauh apa pun hubungan Gabriel dan Nata berjalan, mereka tetap terikat oleh darah yang sama.
Di sisi lain, Gabriel duduk sendirian di balkon rumah, menatap halaman depan dengan pandangan kosong. Kepergian Helena bukan hanya meninggalkan luka bagi Dani dan Nata, tetapi juga untuk dirinya. Sampai kapan pun, cintanya akan tetap abadi untuk seorang Helena.
Jemarinya perlahan mengusap punggung tangan yang mulai tampak menua. Sejak mengetahui penyakitnya, fisiknya seolah ikut menanggung duka yang sama—bercak-bercak mulai memenuhi kulitnya, warna kulitnya mengusam, tubuhnya semakin kurus, bahkan rambutnya perlahan banyak yang rontok.
Gabriel tersenyum kecil sambil mengembuskan napas panjang, lalu menunduk.
“Sudah tua aku, Mi…” gumamnya lirih, seakan sedang berbicara langsung kepada Helena.
Rumah itu tenggelam dalam sunyi yang menyesakkan. Di tempat masing-masing, Nata dan Gabriel memilih meluapkan duka mereka sendiri-sendiri.
Gabriel muncul di ambang pintu kamar, memandangi anak bungsunya yang tampak sudah selesai membereskan pakaian.
Ia tersenyum tipis. “Mau makan nggak?” tawarnya lembut.
Nata mendongak, lalu menggeleng pelan. “Enggak. Papi lapar?” balasnya.
Gabriel melangkah mendekati kasur dan duduk di sana, sementara Nata masih lesehan di lantai kamar.
“Nggak juga. Siapa tahu adek lapar, capek habis beres-beres,” ujarnya.
Nata kembali menggeleng. “Lebay. Gini doang mana capek,” sahutnya santai.
Keheningan singgah beberapa saat. Tatapan Gabriel kemudian jatuh pada foto Helena yang terpajang besar di dinding kamar. Nata ikut memandang ke arah yang sama. Kerinduan tersirat jelas dari mata keduanya.
“Kalau waktu itu mobil Mamimu nggak mogok, Papi nggak bakal ketemu sama dia…” tutur Gabriel pelan, membawa dirinya kembali pada masa lalu.